“ Bu, kenapa ibu betah kerja
disini? ” tanyaku pada seorang buruh pabrik yang sudah bekarja selama 12 tahun.
“ Iya nak, ibu betah kerja disini
karena juragannya baik tidak pernah marah-marah dan selalu menggunakan bahasa
jawa alus kesemua pegawainya, termasuk ibu,” jawab ibu tersebut sambil
menggoreng singkong untuk keripik.
Sesuai dengan penjelasan dari ibu-ibu
pekerja pabrik bahwa pemilik perusahaan tempat mereka bekerja memiliki
tutur-pitutur yang baik. Juragannya (sebutan untuk pemilik pabrik) selalu
menggunakan bahasa jawa halus untuk berkomunikasi dengan para pekerja pabrik. Tidak
terkecuali pekerja pabrik bagian bersih- bersih atau angkat-angkat. Juragan tersebut
selalu sopan dalam berbahasa kepada semua orang.
“ Ibu merasa di hormati mas,
kalau juragan bicara dengan bahasa halus meskipun ibu kerjanya hanya bagian goring-goreng.”
Jelas ibu member penegasan.
Memang bahasa dapat membuat orang
nyaman dalam berkomunikasi dan juga dapat meninggikan derajat orang lain. Meskipun
juga dapat menjatuhkan sesuai penggunaannya. Bahasa jawa memiliki banyak ucapan
yang berbeda, sehingga memiliki fungsi masing – masing. Biasanya penggunaan
bahasa tergantung pada umur dan derajat orang yang menjadi lawan bicara. Derajat
dapat dilihat dari pangkat, jabatan, keturunan, atau tingkat ekonomi. Kalau seumuran
derajat orang lain lebih rendah biasanya menggunakan bahasa jawa ngoko (bahasa jawa kasar). Sedangkan kepada
orang yang lebih tua atau berderajat lebih tinggi menggunakan bahasa jawa kromo inggil (bahasa jawa halus).
Misalnya teman seumuran, jika
ingin memanggil “kamu” dalam bahasa kasar nyebutnya “awakmu”. Kalau kepada
orang yang lebih tinggi umurnya di memanggil “ sampean”. Untuk orang tua atau
orang yang derajatnya lebih tinggi bisanya memanggil dengan sebutan “njenengan”.
Itu contoh kecil dalam penggunaan
bahasa jawa. Sedangkan dalam pabrik tersebut ternyata baik pemimpin atau
pekerja di anjurkan menggunakan bahasa jawa halus secara kultural. Pemimpin perusahaan
memberikan contoh lalu para pegawai atau buruh juga ikut melakukannya. Tidak memandang
umur, derajat, atau jabatan semua berbahasa jawa halus. Dengan seperti itu
akanmenciptakan sebuah lingkungan dengan rasa menghormati yang tinggi. Dapat memanusiakan
manusia. Saya mendapat banya pelajaran dari lingkungan kerja pabrik yang saya
tempati untuk magang ini.[]
