“Kekeringan ini Ulah Manusia”

***

Pagi itu (19/11/2023) usai mencuci motor, ku rebahkan punggung di kursi sofa samping rumah. Secangkir kopi dan sebatang nikotin menemaniku di hari yang gerah ini. Aplikasi pengukur suhu di Hp menunjukan angka 34 derajat celsius, suhu yang cukup tinggi untuk membuat seseorang tidak nyaman berdiam diri di dalam rumah.

Musim kemarau ini mengingatkan ku pada saat dulu hidup di Kota Tembakau, Jember. Aku masuk Kota Jember tahun 2012, kalau tidak salah ingat diantara Bulan Juli atau Agustus. Menempuh pendidikan mengharuskan ku untuk tinggal sementara waktu di kota tersebut. Ya meskipun sebenarnya aku tinggal di Jember selama 6 tahun.

Awalnya aku memilih Kos di daerah Perumahan Gunung Batu dan mendapatkan kamar dilantai 2. Tidak ada masalah untuk kondisi fasilitas kos, namun sekitar 2 mingguan aku tinggal tibalah muncul persoalan. Air tidak dapat naik ke kamar mandi lantai 2, hal tersebut mengaharuskan ku turun ke kamar mandi lantai 1.

Belum genap satu bulan, aku memutuskan untuk pindah kos di daerah Jalan Kalimantan. Alasan utama pindah kos sebenarnya bukan masalah ketersediaan air, namun soal jarak antara kosan dengan kampus. Aku yang saat itu masih menggunakan sepeda gayuh, memang membutuhkan tempat kos yang lebih dekat dengan kampus. Untuk mempermudah dan mempercepat akses kos dengan kampus.

JEMBER: Air Asat dan Harus Bangun Pagi

Tidak jauh berbeda dengan tempat kos yang sebelumnya, kos ku yang sekarang pun juga mengalami kekeringan. Aku kos di Jalan Kalimantan, Gang Sadewa nomor 88 yang berbatasan langsung dengan area Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK). Waktu itu belum ada batas yang nampak jelas antara area kos dan area kampus PSIK, karena memang belum ada beteng atau tembok pembatas.

Kalau di kosan lama memang fasilitas kamar mandi sudah terpenuhi, tapi di kosan yang baru ini aku rasa jumlah kamar mandinya terlalu sedikit. Dua kamar mandi untuk mencukupi kebutuhan 18 orang, dan menurutku ketersediaan kamar mandinya sangat kurang. Ditambah lagi keberadaan 2 buah sumur yang semakin hari airnya semakin sedikit. Kadang kala untuk urusan genting seperti kebelet buang air besar, kami harus antri atau cari kamar mandi lain karena tidak ada air.

Saat itu memang Jember dilanda kekeringan, khususnya di area kampus dan wilayah-wilayah disekitarnya. Untung saja di dekat gedung kampus PSIK terdapat sumur tua yang memang ketersediaan airnya cukup banyak. Namun karena sumur tersebut terdapat diarea kampus, membuat kami penghuni kosan harus bangun pagi untuk mengambil air. Faktor sopan santun dan sedikit sungkan adalah alasannya. Pun kalau kami bangun kesiangan, pilihannya hanya ada dua. Pertama tetap mengambil air di area kampus PSIK dengan menahan rasa malu karena sudah banyak mahasiswa di lingkungan kampus dan yang kedua kami tidak mandi serta hanya mencuci muka saat berangkat ke kampus.

Selain itu kami juga secara tidak langsung melakukan persaingan untuk mendapatkan air tersebut. Aturannya siapa cepat dia dapat, jadi jam 4 subuh pun sudah ada yang bangun dan berebut mengambil air. Kesusahan kami berikutnya terkait dengan ketersediaan air untuk cuci baju. Untuk mandi dan kebutuhan ke WC saja kami berebut air, apalagi kalau untuk cuci baju. Cara yang tepat pastinya akan merepotkan teman, ya main kerumah atau kos teman yang memang sumurnya tidak kekeringan sekaligus numpang mencuci pakaian. Atau pilihan terakhir, kami laundry.

JEMBER: Ketersediaan Air yang Semakin Menurun

Menurut para pendahulu penghuni kosan, terjadinya kekeringan itu memang rutin di setiap tahunnya. Yang membedakan hanya lama tidaknya waktu kekeringan itu terjadi. Namun saat dirasa, durasi waktu kekeringan ini dari tahun ke tahun semakin lama, bahkan meluas ke daerah-daerah yang biasanya tidak mengalami kekeringan.

Hal ini sejajar dengan kerusakan alam yang semakin hari semakin meluas. Kalau di Jember, terdapat aktivitas penambangan yang dilakukan di bukit atau gumuk. Penambangan tersebut, mengeruk Sumber Daya Alam galian C berupa pasir dan beberpa jenis bebatuan.

Kabupaten Jember, kalau dilihat dari geografi dan topografinya merupakan kota dengan karakter wilayah yang memiliki banyak Gumuk. Dan kota tersebut pernah mendapat julukan Kota Seribu Gumuk. Dari segi kebermanfaatan, gumuk juga memiliki nilai ekologi yang sangat baik. Keberadaan Gumuk dapat berfungsi sebagai resapan air, ruang terbuka hijau, sumber keanekaraganman hayati dan juga koridor bagi berbagai flora dan fauna. Keberadaan gumuk juga dapat menjadi penghalangan angin atau pemecah angin serta juga dapat menjadi pengatur cuaca dan iklim.

Sedangkan gumuk merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, sehingga memerlukan perlindungan dan pengelolaan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dalam kehidupan. Apabila gumuk terus berkurang maka bencana ekologi pastinya akan terjadi, kekeringan, angin kencang, hujan deras yang mengakibatkan banjir, dan hal-hal yang berkaitan dengan bencana alam lainnya.

 


BANYUWANGI: Akibat Rusaknya Alam Mulai Nampak

Minggu Pagi, aku dan ibuk pergi kesawah untuk melakukan pekerjaan “Ngawen” Buah Naga. Kegiatan yang dilakukan untuk membantu penyerbukan bunga Buah Naga agar proses penyerbukannya dapat maksimal. Sesampainya di sawah, aku cukup kaget karena kondisi tanah di sawah kering tidak ada air. Mengakibatkan fisik dari pohon Buah Naga menjadi kuning dan sebagian juga mengalami kelayuan. Aku ngobrol dan diskusi sama ibuk untuk melakukan pengairan ke lahan. Sebagai upaya memperbaiki pohon buah naga yang dapat dikatakan kurang sehat dan juga tetap mengejar produktifitas buah naga karena itu yang diharapkan petani dari kegiatan tanam menanam.

Keesokan harinya, pengairang dilakukan. Air diambil dari sungai dekat sawah, dengan cara di sedot menggunakan mesin pompa air. Kebetulan letak sawah ku dekat dengan jalur sungai, sehingga kami di permudah untuk jarak mengambil air yang tidak begitu jauh. Namun debit air di sungai yang biasanya tinggi, bulan – bulan ini sudah mulai turun. Jika dalam satu bulan kedepan tidak ada hujan, kemungkinan sungai dekat sawah juga akan mengalami kekeringan. Itu prediksi ku.

Lain di sawah juga lain di sumur rumah, ternyata di sumur rumah yang airnya kami gunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti mandi, masak, dan mencuci juga mengalami kekeringan. Biasanya setiap hari Minggu atau libur, aku melakukan kegiatan mencuci motor. Pagi itu aku sudah selesai mencuci 2 motor, saat itu juga panel otomatis pompa air di sumur berbunyi, menandakan bahwa air di tandon habis dan sekarang sedang proses pengisian.

Sembari menunggu air di tandon penuh, aku istirahat dulu sambil menyruput kopi yang sudah dibuatkan istriku tadi. Sampai kopi hampir tandas, pompa air masih tetap berbunyi artinya tandon belum penuh. Tapi ini tidak seperti biasanya, seharusnya ketika kopi sudah habis setengah gelas biasanya pompa berhenti karena tandon sudah penuh. Untuk itu aku mengecek tandon yang ternyata memang belum penuh, lanjut cek mesin pompa dan berfungsi normal, terakhir aku mengecek air di dalam sumur dengan menggunakan senter sebagai penerangannya. Nampak permukaan air yang begitu dalam, menandakan bahwa pasokan air didalam susmur sudah mulai habis dan tidak dapat dipompa naik. Itu lah sebabnya tando air tidak penuh-penuh, karena memang airnya tidak dapat naik ketandon.

Sudah 25 tahun, aku hidup dan tinggal di rumah ini dan baru kali iki aku merasakan sumur mengalami kekeringan. Samapai-sampai aku harus menunggu sehari agar stok air didalam sumur dapat disedot kembali. Sehingga kami mulai berhemat dalam penggunaan air.

Memang tahun ini musim kemarau terjadi lebih panjang, yang biasanya di awal bulan November sudah mulai ada hujan. Hingga saat ini, di pertengahan bualan November belum ada tanda-tanda hujan. Bahkan cuaca sangat cerah dengan suhu yang cukup gerah.

BANYUWANGI: Kerusakan Alam yang Kalian Abaikan

Berbicara mengenai kerusakan alam, aktivitas pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu, Pesanggaran, menyumbang porsi yang paling besar dalam tinggi rusaknya alam Kabupaten Banyuwangi. Gunung Tumpang Pitu yang letaknya berbatasan langsung dengan laut selatan dapat menjadi pemecah angin khususnya angin laut. Namun kondisi gunung yang terus digerus akibat proses penambangan, membuat fungsi gunung sebagai pemecah angin tidak dapat berfungsi maksimal.

Perubahan iklim yang terjadi, menyebabkan perubahan tekanan udara dari daratan. Hal tersebut membuat terjadinya “Jet Steam Effect” dari lautan yang menghempas daratan dengan hawa panas dan angin tersebut membuat daerah yang sebelumnya memiliki kandungan air lebih menjadi kekeringan. Ditambahlagi gunung sebagai pemecah angin terus berkurang, membuat daya sebar hembusan hawa panas dari angin menjadi semakin meluas.

Rusaknya gunung juga sebanding dengan rusaknya hutan, yang keduanya merupakan aktor penting dalam menyimpan cadangan air di dalam tanah. Alih fungsi lahan seperti gunung atau hutan yang di buka secara besar-besaran untuk dijadikan wilayah penambangan menjadikan daerah resapan air terus berkurang. Sungguh wajar jika wilayah tersebut mengalami kekeringan karena tidak adanya area resapan air sebagai wadah menyimpan stok air.

Ditambah lagi Hujan yang enggan segera turun, rusaknya alam atau hutan yang mempengaruhi iklim atau panas bumi meningkat membuat curah hujan menjadi rendah. Rendahnya curah hujan diakibatkan tingkat produksi uap air dan awan rendah, sehingga musim kemarau semakin panjang dan kekeringan menjadi sebuah ancaman.

Kondisi panas dan kering ini tidak hanya terjadi di Banyuwangi saja, namun hampir disemua wilayah Indonesia atau bahkan dunia. Hal ini karena eksploitasi alam bukan hanya dilakukan di Banyuwangi, namun alih fungsi lahan hutan atau gunung juga terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Penambangan dan pembukaan lahan untuk perkebunan menjadi faktor utamanya.

Apabila aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan eksploitasi alam ini terus meluas, maka acaman kekeringan dan balasan-balasan dari alam akan semakin besar. Banjir, Longsor, Gempa, Badai, dll mungkin akan menjadi pemandangan yang akan sering kita temui kedapannya. Contoh jangka pendeknya, musim hujan yang telat dan apabila terjadi hujan pastinya diiringi angin yang lebih besar dari biasanya.

Bumi sedang tidak baik-baik saja, jaga alam dan terus perbaiki. Mari bergerak untuk hidup yang berkesinambungan.

Sebelum Setelah