Beberapa wilayah di Banyuwangi kerap diguyur hujan untuk 3 hari belakangan
ini. Salah satunya di desa saya Seneporejo, Kec. Siliragung. Pun pagi ini
ketika saya akan berangkat kopdar, hujan masih saja turun. Dari kemarin sore
hingga pagi ini, tak kunjung reda. Namun informasi yang saya dapat dari grup WA
komunitas, bahwa di daerah Sewu Sambang cuacanya cerah.
Setelah hujan agak reda, saya mengambil lagi mantel dan memakainya lalu
berangkat mesklipun agak gerimis. Namun hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari
rumah, hujan kembali turun dengan deras. Karena saya sudah memakai mantel
akhirnya perjalanan saya lanjutkan. Hingga terjadi sebuah kendala yang tidak
saya antisipasi. Oler gas motor putus, dan itu diluar dugaan saya.
Untuk masalah motor, saya tidak paham sekali. Hal tersebut mengharuskan
saya untuk menghubungi salah satu kawan yang telah tiba di titik kumpul lebih
dulu. Dani namanya. Selang beberapa menit Dani datang, karena perlengkapan bengkel
juga tidak ada dan oler gas juga harus membeli ditoko akhirnya motor harus
didorong sampai menemukan bengkel.
Sedikit sungkan juga saya kepada Dani, karena dia harus mendorong motor
dari Jajag hingga Srono. Itu karena pada hari Minggu, bengkel jarang ada yang
buka. Adapun yang buka hanya jual part motornya saja. Tidak dengan tenaga
pasangnya. Sampailah di Srono ada satu bengkel yang baru buka dan kamipun
langsung belok dan memperbaiki motor di bengkel tersebut.
Rogojampi sampai Kalipuro Tidak Hujan
Motor sudah selesai di perbaiki, motor pun juga sudah kembali normal. Kami langsung
melanjutkan perjalanan ke Rogojampi, karena di situ merupakan titik kumpul paling
tengah untuk pertemuan dari arah Jajag dan Genteng. Dan Rogojampi memang biasa
menjadi titik kumpul pertama saat Komunitas Honda Win mengadakan kopdar ataupun
acara ke arah Banyuwangi Kota.
Di pertigaan utara Puskesmas Gitik – Rogojampi sudah ada beberapa kawan
yang sudah menunggu, kami pun berhenti untuk berjabat tangan karena sudah agak
lama tidak bertermu. Sekaligus kami mencopot mantel yang sedari tadi masih kami
pakai karena hujan.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami memutuskan dulu rute mana yang akan
diambil untuk menuju Bukit Sewu Sambang. Kami mencari rute yang poling cepat
dan aman, karena beberapa dari kawan kami sudah ada yang sampai di Sewu Sampang
sejak kemarin sore. Mereka camp disana.
Awalnya memang agenda kami ada konsep camp-nya, namun karena cuaca di
beberapa wilayah yang tidak memungkinkan untuk berangkat akhirnya agenda itu
dibatalkan. Hujan masih menjadi kendala kegiatan kami. Tapi karena beberapa kawan
sudah terlanjur mempersiapkan kegiatan camp seperti tenda, akomodasi, niat,
serta ijin dari istri atau orang tua akhirnya mereka tetap camp.
Memasuki Area Sewu Sambang
Jalan sudah mulai bertanah dan berbatu, pun juga sudah ada sebagian yang menanjak. Pertanda kami semakin dekat dengan lokasi acara. Pemandangan laut atau Selat Bali juga sudah terlihat remang-remang dari balik pohon. Memasuki kawasan Bukit Sewu Sambang justru kondisi jalan semakin bagus, jalan di kawasan tersebut sudah dibangun dengan cara di paving. Tanjakan-tanjakan kecil menjadi keseruan tersendiri bagi kami saat menarik gas motor. Hijaunya rumput yang tumbuh menyelimuti bukit serta selat bali yang semakin terlihat jelas, membayar lunas ekspektasi kami saat hanya dapat melihat Sewu Sambang dari media sosial.
Cuaca disana cerah, angin yang bertiup membuat suasana sejuk dan
meminimalisir panasnya matahari. Untuk mencapai puncak bukit ada 2 jalan yang
disediakan. Tangga dari semen, untuk pejalan kaki dan jalan setapak dapat
dilewati dengan motor. Jalannya memang memiliki kemiringan yang curam, namun
masih dapat dinaiki motor bahkan motor metic. Yang terpenting selalu hati-hati.
Jikalau tidak berani atau takut, dibawah sudah disediakan area parkir.
Kamipun menaiki motor satu per satu untuk ke puncak. Pelan namun pasti dan
keselamatan yang utama. Sampainya di puncak ternyata fasilitasnya juga sudah
cukup lengkap. Mulai dari Warung, Toilet, Gazebu/Gubuk untuk berteduh, Aula, serta
tempat Sholat. Terlihat juga papan informasi mengenai denah dari kawasan Sewu
Sambang.
Sampainya di puncak, motor kami tata rapi sebagai persiapan foto nanti sebelum pulang. Serta menjaga keindahan dari lokasi, apabila motor yang kami naiki diparkir sembarangan dan berantakan pastinya akan mempengaruhi keindahan sekitar.
Kami pun menikmati suasana Sewu Sambang dengan duduk-duduk di bawah pohon
dan Gazebu. Sembari ngobrol santai terkait komunitas serta pastinya sambil
makan dan minum karena perut juga sudah mulai berbunyi pelan.
Jangan Jadi Donatur Sampah
Sewu Sambang memang indah dan memiliki potensi wisata yang cukup baik. Fasilitas-fasilitas
juga sudah mulai dilengkapi oleh pengelola, salah satunya tempat sampah. Namun meskipun
sudah disediakan tempat sampah, pengunjung tetap meninggalkan sampah atau
membuang sampah sembarangan. Jadilah pengungjung yang bijak, ababila datang membawa
sampah dan tidak mau membawa pulang sampah tersebut alangkah bijaknya membuang
sampah pada tempatnya.
Terlihat banyak sekali sampah bungkus makanan, mulai dari bungkus mie, roti,
permen, kopi, minuman bahkan ada pampers bayi yang dibuang tidak pada tempatnya.
Padahal pengelola sudah menyediakan fasilitas tempat sampah dan himbauan agar
tidak membuang sampah disembarang tempat.
Hal tersebut juga mendorong kami untuk bergerak membersihkan atau mengambil sampah diarea tersebut, khususnya sampah plastik. Kami pun sebagai orang atau kelompok yang sering berwisata dibeberapa daerah pastinya datang membawa sampah, terutama sampah perbekalan. Tapi yang harus kita sadari semua, apabila kita tidak dapat membawa pulang sampah yang kita bawa minimal membuang sampah pada tempatnya. Hal itu untuk menjaga agar lingkungan tidak tercemar, tempat wisata tetap indah untuk dipandang, dan sensasi kenyamanan untuk kita sendiri saat berwisata. Selesai dari memberishkan sampah, kami tutup agenda siang itu dengan foto bersama.





